Asal Daerah: Palangkaraya
Senin, 25 November 2013
Pakaian Perang Dayak KALIMANTAN TENGAH
Jumat, 22 November 2013
Makam Dayak
Berkunjung ke kampung suku dayak Benuaq ataupun suku dayak Bentian di
pedalaman . Kuburan akan mudah ditemukan di halaman
samping atau tepi jalan menuju kampung orang Dayak Benuaq. Kuburan orang
Benuaq atau Bentian tidak didalam taah seperti layaknya suku
lain.ketika pertama meninggal mereka akan dimak
Legenda Mustika Ular Suku Dayak
Berbicara mengenai suku dayak memang tidak ada habisnya untuk dikaji.
demikian banyak sumber yang sangat menarik untuk diulas. Seperti
sebelumnya kami sempat mengulas tentang panglima burung dari kalimantan,
tato suku dayak atau senjata hebatnya yaitu mandau. Sahabat
anehdidunia.com bisa search di blog kesayangan kita ini dengan keyword
"dayak". Sekarang kita akan membahas hal yang tidak kalah menariknya
tentang Mustika Ular Suku Dayak.
Walau hidup di alam yang tak kasat mata, namun, mereka memiliki kebutuhan yang sebagian besar sama dengan yang dibutuhkan
Kisah Suku Pemburu Kepala(NGAYAU)
Marco polo, avonturir dari Italia, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya di Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, dia melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Sangat berlawanan dengan penduduk yang tinggal di kota Perlak, di mana masyarakatnya lebih beradab, bahkan sahabat anehdidunia.blogspot.com setelah berhubungan dengan pedagang-pedagang Islam, mereka berpindah dari menyembah berhala menjadi pengikut ajaran Muhammad. Dia menuliskan itu dalam catatan perjalanannya. Dia tahu catatannya akan mengejutkan, dan mungkin tak dipercaya banyak orang. Karena itu, dia sampai bersumpah untuk meyakinkan pembacanya.
Selang lima bulan kemudian, Marco Polo menuju Pidie, daerah utara Sumatra lainnya. Di tempat ini, dia mendapati satu keluarga menyantap seluruh badan seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit. “Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam “Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara Pada 1920-an” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.
Berbeda dari Marco Polo di Sumatra, dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, diceritakan sebuah suku pemburu kepala di Wu-long-li-dan, pedalaman Banjarmasin. Suku pemburu kepala itu disebut orang Beaju –Be-oa-jiu dalam lafal Hokkian (Fujian) selatan–, sebuah suku besar orang Dayak di pedalaman. Mereka berkeliaran saat malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia. “Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian dikutip W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.
Kala itu, kisah perburuan kepala manusia di wilayah pedalaman tengah dan timur Nusantara telah tersebar luas di kalangan penjelajah dari mancanegara, serupa dengan kisah kanibalisme. Tapi minat mereka terhadap Nusantara tak pernah surut. Kapal-kapal dari pelabuhan penting di Eropa tetap berlayar menuju Nusantara untuk berdagang. Perlahan mereka menjelajah kepulauan Nusantara hingga ke pedalamannya dan bertemu dengan suku pemburu kepala manusia.
Maret 1648. Perang antarkampung telah berlangsung berhari-hari di Seram. Perang itu melibatkan orang-orang kampung di wilayah pantai dan orang gunung yang disebut Alifuru. Meski tak diketahui secara pasti, VOC (Vereenigde Oostindische Campaignie) melaporkan banyak korban tewas. Korban dari pihak wilayah pantai ditemukan tanpa kepala. Gubernur Ambon Robert Padtbrugge mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian. Selain itu, dia meminta tim untuk meneliti adat berburu kepala orang Alifuru.
Tim kembali ke Ambon tanpa hasil. Perang tetap berkobar. Dan mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa orang Alifuru memburu dan mengoleksi kepala musuhnya. “Di hadapan gubernur, tim itu melaporkan hasil penelitiannya mengenai kepercayaan orang Alifuru. Meski mengaku telah bekerja dengan baik, mereka tak berhasil menjelaskannya secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Mereka tak bisa memahaminya,” tulis Gerrit J. Knaap dalam “The Saniri Tiga Air (Seram)”, Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2 (1993).
Tim hanya mampu menjelaskan bahwa adat memburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup orang Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Bagi orang Alifuru, memburu kepala musuh telah menempati posisi penting dalam kehidupan sosial dan kepercayaannya. Anehnya, adat itu tak mereka lakukan terhadap orang asing, baik Eropa maupun wilayah Nusantara lainnya. Penerimaan mereka terhadap orang asing sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantara VOC meski usaha itu akhirnya gagal.
Sementara itu, di Sulawesi sahabat anehdidunia.blogspot.com, perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum kedatangan orang Belanda. Orang Toraja Bare’e yang bermukim di Sulawesi Tengah selalu mengambil kepala musuhnya dalam tiap peperangan mereka, selama memungkinkan. Mereka harus membunuh dan memotong kepala musuhnya dengan cepat agar musuh tak mengalami penderitaan yang lama.
Kepala musuh kemudian dibawa ke kampung mereka. Upacara pun dilakukan. “Kepala diperlukan sebagai akhir masa berperang dan penahbisan di kuil sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam “Head-Hunting in Indonesia”, Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1 (1995).
Perburuan kepala di Sulawesi masih berlangsung hingga kedatangan orang Eropa. Alfred Russel Wallace, naturalis tersohor asal Inggris, yang mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan cerita itu langsung dari penduduk lokal (Minahasa). Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah. “Mereka berburu kepala manusia layaknya suku Dayak di Kalimantan... Ketika seorang kepala suku meninggal, dua potong kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya... Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dimuat dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 karya George Miller.
Walaupun Wallace hidup di tengah penduduk pemburu kepala, Wallace merasa tak terancam. Bahkan, dia justru terkesan dengan karakter mental orang Minahasa. “Mereka juga memiliki karakter mental dan moral yang unik,” tulis Wallace. “Pembawaan mereka tenang dan halus.”
Adat berburu kepala tak selamanya dipertahankan oleh suku-suku pedalaman. Di Borneo misalnya, sebuah perjanjian antarsuku dibuat untuk menghentikan saling bunuh (habunu), memenggal kepala (hakayau), dan memperbudak (hajipen). Perjanjian pada 1894 itu termashyur dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi. Sebelumnya, beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Seorang penulis berkebangsaan Norwegia mengukuhkan citra itu melalui bukunya yang terbit pada 1881, The Head-Hunters of Borneo. Dalam bukunya ini, Carl Bock menuliskan suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah mendapatkan kepala musuh, seseorang berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan.
Suku-suku di Borneo memiliki beragam alasan berburu kepala musuh seperti balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Ini karena Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki pandangan yang berbeda mengenai ngayau (memburu kepala). “Saya yakin tak ada satu pun analisis yang bisa menjelaskan dengan tepat praktik dan makna-makna perburuan kepala...,” tulis Yekti Maunati dalam Identitas Dayak. “Di kalangan orang-orang Dayak sendiri terdapat berbagai kepercayaan dan mitologi.”
Makna Tattoo Bagi Suku Dayak Kalimantan
Sebab tato bagi masyarakat Dayak tidak boleh dibuat sesuka hati sebab ia adalah sebahagian dari tradisi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.
Oleh karena itu, ada peraturan tertentu dalam pembuatan tato baik pilihan gambarnya, struktur sosial seseorang yang memakai tato maupun penempatan tatonya. http://anehdidunia.blogspot.com
Meskipun demikian, secara realitasnya tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.
Bagi suku Dayak yang tinggal di sekitar Kalimantan dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tatoo di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin arif dalam ilmu pengobatan.
Bagi masyarakat Dayak Kenya dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah kuat mengembara. Setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.
Berbeda pula dengan golongan bangsawan yang mamakai tato, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tatoo di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bahagian bawah betis.
Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai simbol tato berbentuk muka harimau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge. http://anehdidunia.blogspot.com
Tatoo sangat jarang ditemui di bagian lutut. Meskipun demikian, ada juga tatoo di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.
Misteri Mandau Senjata Sakti Suku Dayak
Mandau
adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun
temurun dan dianggap sebagai barang keramat atau memiliki
kesaiktian.Selain itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan
menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian
besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu
berada dan diikatkan pada pinggang mereka. Mandau, Senjata Sakti Pusaka
Suku Dayak. Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang,
sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya seorang putra
dayak akan melengkapi dirinya dengan senjata. Salah satu senjata yang
pasti dibawa dalam sebuah perantauan adalah mandau. Mandau, Senjata
Sakti Pusaka Suku Dayak.
Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Kalimantan merupakan “daerah asal” suku Dayak. Di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol kehormatan dan jatidiri. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.
Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Kalimantan merupakan “daerah asal” suku Dayak. Di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol kehormatan dan jatidiri. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.
Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak
ini dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian.
Kesaktian Mandau ini tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang
melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga diperoleh dari pengayauan
(pemenggalan kepala lawan-red). Semakin banyak orang yang berhasil
di-kayau, mandau itu semakin sakti. Sebagian rambut kepala yang berhasil
dikayau biasanya digunakan untuk menghias gagang mandaunya. Mereka
percaya bahwa roh orang yang mati karena dikayau akan mendiami mandau
sehingga mandau tersebut menjadi sakti.
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang dan berujung runcing. Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Menurut cerita masyarakat dayak, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang dan berujung runcing. Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Menurut cerita masyarakat dayak, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.
Sedangkan Gagang atau hulu mandau terbuat dari tanduk rusa yang diukir
menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan
berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada
ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau
rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat
membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial
pemiliknya.
Sementara Sarung mandau atau yang biasa disebut kumpang biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.
Jika dicermati secara seksama, di dalam pembuatan mandau, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.
Sementara Sarung mandau atau yang biasa disebut kumpang biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.
Jika dicermati secara seksama, di dalam pembuatan mandau, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.
Museum Balanga
Museum Balanga adalah museum yang berlokasi di Kota Palangka Raya, provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia.[1] Museum Balanga berlokasi di Jalan Tjilik Riwut, hanya sekitar 2,5 km dari Bundaran Besar. Jika anda tidak menggunakan kendaraan pribadi, dengan transportasi umum juga sangat mudah.
Keberadaan Museum Balanga memang belum banyak diketahui oleh publik. Bahkan masyarakat Kalteng sendiri banyak yang masih belum mengetahui keberadaan museum ini, padahal museum ini ada sejak 1973. Didirikan oleh Pemda Kalteng mulanya sebagai museum daerah. Seiring dengan kebijakan pemerintah pusat bahwa setiap provinsi memiliki museum yang menampilkan keunikan kebudayaan dan kekayaan alam setempat, maka pada tahun 1990 Museum Balanga menjadi museum provinsi.Museum Balanga memiliki berbagai jenis koleksi hasil kebudayaan material (benda budaya) yang dikelompokan menjadi koleksi ethnografi, historika, arkeologi, keramologika, numismatika & heraldika. Sementara benda alam dikelompokan menjadi koleksi biologika dan geologika. Koleksi museum tersebut sebagian dipajang di 2 gedung sebagai pameran tetap, selebihnya ditata di gundang koleksi.
Ketika anda memasuki ruang pameran maka anda akan merasakan suasana kehidupan tradisional suku Dayak. Koleksi ditata berdasarkan daur hidup, dimulai dari peralatan upacara fase kelahiran, perkawinan dan terakhir kematian. Pemandu tak akan lupa menceritakan kepada anda tentang keunikan upacara Tiwah. Di sini anda akan melihat keunikan senjata tradisional seperti Sumpit, Duhung, Mandau, miniatur rumah panjang yang disebut Betang, alat pengundang ikan yang disebut Mihing, patung Sapundu dan Hampatung Karuhei, jimat Penyang, aneka barang kuningan, aneka tempayan keramik asal Cina dari dinasti Ming dan Ching yang disebut Balanga dan piring Malawen. Masih banyak lagi koleksi unik lainnya.
Museum Balanga juga menerima sekitar seribu buah senjata sitaan yang digunakan saat konflk etnis di Sampit tahun 2001 sebagai koleksi historika.
Museum Balanga melayani kunjungan perorangan maupun rombongan pada saat jam kerja, yakni :
- Senin-Kamis : 07.00 - 14.00
- Jumat : 07.00-10.30
- Sabtu : 07.00-2.30
PIRING MALAWEN DAYAK
Posted by Mery Indrawijaya
Piring Malawen dikenal oleh orang dayak piring kuno peninggalan nenek moyang mereka. piring malawen asli peninggalan nenek moyang orang dayak biasanya bergambarkan binatang yang dianggap keramat seperti gambar naga atau gambar binatang yang memberikan kesejahteraan bagi mereka contohnya gambar ikan.
Piring malawen mereka anggap mempunyai khasiat atau kelebihan seperti anti basi makanan dan dapat digunakan untuk pengobatan. Mereka percaya bahwa air santan kelapa yang ditaruh di piring malawen selama 3 hari dapat berkhasiat untuk mengobati luka atau patah tulang.Umumnya piring malawen bertuliskan huruf China, karena nenek moyang orang dayak aslinya merupakan penduduk China yang berpetualang untuk mencari tempat yang lebih aman dari kekejaman Jengis Khan.
Mereka merupakan masyarakat yang sudah maju, namun karena lingkungan
hutan yang tidak mendukung membuat keturunannya terpaksa kembali
menjadi masyarakat yang primitif.
Beberapa orang masih berpikiran bahwa orang dayak merupakan orang yang berbahaya, mitos bahwa orang dayak memakan manusia merupakan mitos jaman dahulu kala yang tidak bisa digunakan dijaman ini. Orang dayak yang sebenarnya sangat ramah, dan sangat bersahabat.
Jadi bagaimana menurut anda tentang piring malawen? piring kuno yang berumur kira-kira 300 tahun ini? saya punya satu piring malawen bermotif dua naga kecil, tetapi saya sendiri belum bisa mengetahui keasliannya.
Beberapa orang masih berpikiran bahwa orang dayak merupakan orang yang berbahaya, mitos bahwa orang dayak memakan manusia merupakan mitos jaman dahulu kala yang tidak bisa digunakan dijaman ini. Orang dayak yang sebenarnya sangat ramah, dan sangat bersahabat.
Jadi bagaimana menurut anda tentang piring malawen? piring kuno yang berumur kira-kira 300 tahun ini? saya punya satu piring malawen bermotif dua naga kecil, tetapi saya sendiri belum bisa mengetahui keasliannya.
MISTERI JEMBATAN KAHAYAN PALANGKA RAYA, KAL-TENG
Jembatan Kahayan
Jin
Buaya Putih
Kuyang
Penunggu Sungai Kahayan, Kuyang, Jin, Buaya Putih
KERAGUAN masyarakat Kota Palangkaraya dengan adanya kabar mistik di bawah jembatan Sungai Kahayan, kini terkuak. Apalagi, bekalangan ini, penunggu sungai itu disebut-sebut sering kali meminta tumbal manusia. Ini terungkap setelah program di salah satu TV swasta (Trans7) Mr Tukul Jalan-Jalan, mencoba menggambarkan jenis apa saja makhluk yang menunggu di sungai itu.
Sebelum tiba di lokasi tersebut, program yang biasa digawangi oleh Mr Tukul, itu lebih dulu menyambangi tempat lain yang dianggap penuh dengan hal mistik. Salah satunya yakni Museum Balanga.
Di tempat tersebut, Lia yang juga artis terkenal dengan lagu “bang sms siapa, ini bang” sempat pingsan setelah melihat makhluk astral sembari minta tolong. Mbah Bejo pun berusaha untuk meredamkannya. Selain itu, banyak aura negative maupun positif yang muncul dari barang-barang kuno peninggalan para leluhur. Mbah Bejo dan Sella yang memiliki kemampuan bisa berkomunikasi dengan makhluk astral itu pun langsung disambut para penjaga museum (makhluk astral). Selain itu, suara teriakan minta tolong juga tidak lepas dari pendengaran mereka. Sumber suara itu seakan-akan meminta supaya didoakan agar hidup di alam lain bisa tenang.
Seusai ditempat tersebut, para kru itu kemudian menyambangi makam Ngabe Sandung Sukah di kawasan arah menuju Pelabuhan Rambang. Sekitar pukul 23.30 WIB, mereka kemudian tiba di lokasi bawah Jembatan Kahayan. Tempat tersebut menjadi akhir penutup perjalanan pada malam tersebut, Jumat (1/2)-Sabtu (2/2) dini hari.
Tempat yang biasanya digunakan oleh para penjual warung bawah jembatan itu ternyata dihuni oleh berbagai mahkluk astral. Menurut penerawangan Mbah Bejo, para penunggu itu berada di bagian pohon kanan maupun kiri. Jenisnya pun bermacam-macam. Di sisi lain, Mbah Bejo juga melihat adanya Kuyang di lokasi tersebut. Kuyang itu juga dikenal sering menganggu ketenangan masyarakat. Kemudian makhluk lainnya yakni, berjenis jin jahat beraut wajah mengerikan, dengan aura kemerahan dan memiliki tanduk. Selain itu, juga adanya Buaya Putih sebagai penunggu sungai Kahayan tersebut.
Guna membuktikan penglihatan itu, Mbah Bejo pun mencoba melukis gaib melalui perantara orang lain. Sebelum dimulai, empat dupa yang dinyalakan ditancapkan ke tanah. Kemudian, menabur bunga dibagian tempat lukisan sembari berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Mbah Bejo juga nyaris muak pada saat lukisan itu berlangsung. Namun, lukisan itu pun akhirnya terungkap dengan jelas.
Lukisan pertama yakni Kuyang, kemudian buaya putih, jin bertanduk, dan makhluk astral lainnya. Buaya putih itu dikenal sebagai penunggu sungai Kahayan tersebut. Sedangkan yang sering mengganggu adalah makhluk lain.
“Di daerah sini memang banyak, ada yang auranya negative ada juga auranya banyak yang positif,” ucap Mbah Bejo.
Sungai Kahayan Juga ada Istananya
HAMPIR setiap tempat angker terdapat sebuah istana yang dihuni oleh makhluk gaib. Tidak terkecuali lokasi Sungai Kahayan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tepatnya di Bawah Jembatan Kahayan.
Terkadang istana itu juga dihuni oleh makhluk yang memiliki aura negatif, ada pula positif. Jika demikian, masyarakat tentu diimbau lebih berhati-hati termasuk meyakini bahwa dunia lain itu ada.
Pasalnya, terkadang ada orang yang tidak begitu percaya adanya hal mistik. Padahal, jelas jika dunia gaib itu ada. Bagi makhluk gaib yang berbuat jahat, tentu tidak tinggal diam saja untuk menganggu manusia. Jika berhasil, maka rasa suka bukan kepalang itu terbenak dihati mereka. Hanya satu yang tidak bisa mereka ganggu yakni keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Mbah Bejo, Istana di sungai kahayan itu dihuni oleh ribuan bahkan mungkin jutaan makhluk. Penghuninya pun berbeda-beda. Ada yang berbuat jahat ada pula berniat baik. Sebagian diantaranya juga termasuk korban yang tewas akibat tenggelam di sungai itu. Ini terungkap setelah Program Mr Tukul Jalan-Jalan yang biasa tayang di Trans7, menyambangi lokasi itu untuk membuktikan kebenaran informasi masyarakat, Sabtu (2/2) dini hari.
“Jadi kalau istana itu memang ada. Penghuninya juga sangat banyak. Sebenarnya tidak hanya tempat ini saja, namun lokasi lain pun yang dihuni makhluk gaib juga ada istananya. Yang jelas kita harus ingat pada yang Kuasa,” pesannya.
Makhluk Penunggu Jembatan Kahayan Berhasil Dijinakan Mbah Bejo
PERCAYA atau tidak itu hak pribadi masing-masing. Namun dengan kelebihan yang dimiliki Mbah Bejo, para penunggu Sungai Kahayan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tepatnya bawah Jembatan Kahayan, sudah dijinakan.
Upaya penjinakan itu juga tidak semudah apa yang dibayangkan. Apalagi, penunggu sungai kahayan itu lebih banyak aura negatif ketimbang positif. Kendati begitu, Mbah Bejo akhinya mampu menjinakan makhluk itu setelah menyambangi lokasi tersebut pada Program Mr Tukul Jalan-Jalan yang biasa tayang di Trans7, Sabtu (2/2) dini hari.
“Saya bukan apa-apa ya. Bukan pula dikatakan sebagai pemburu makhluk gaib, namun penghuni sini setidaknya sudah saya jinakan,” kata Mbah Bejo.
Jika mencermati kata-kata jinak, itu artinya makhluk yang menghuni kawasan itu sebelumnya liar. Namun keberuntungan bagi warga khususnya Kota Palangkaraya setelah sejumlah kru dari program MR Tukul Jalan-Jalan itu sudi menyambangi lokasi tersebut.
Menjelajah Kota Impian Palangkaraya
Menjelajah Kota Impian Palangkaraya
Kota yang dibelah Sungai Kahayan
ini mungkin masih belum menjadi kota tujuan utama pariwisata. Pamor nya
tak sekencang kota destinasi pariwisata Indonesia . Namun siapa sangka,
ibukota Kalimantan Tengah ini mengoleksi cukup banyak objek menarik
yang sayang dilewatkan begitu saja. Tak hanya menawarkan wisata susur
sungai ke pedalaman, sebagai ibukota provinsi ini juga memiliki
sederetan objek alam, budaya, sejarah, belanja oleh-oleh hingga kuliner
khas Dayak.
Dari Banjarmasin menuju Palangka Raya.
Perjalanan darat ditempuh sekitar 4 jam, dengan membelah salah satu
jalur Trans Kalimantan. Megahnya Jembatan Barito
dijumpai sekitar 30 menit perjalanan, jembatan kebanggaan warga Kalsel.
Sungai Barito di bawahnya membentang gagah sejauh sekitar 900 kilometer
hingga berujung di Pegunungan Muller. dan sepanjang perjalanan menuju
Palangka Raya banyak sungai besar lainnya yang ditemui.
Sepanjang Sungai-sungai khas Borneo
tersebut begitu cantik dan alami , perpaduan Warna kecoklatan pada air
nya dengan hijau hutan rimbun di sepanjang tepiannya, berhenti sejenak
di atas jembatan untuk mengagumi sungai-sungai eksotis tersebut.
Sebuah tugu berornamen Dayak menyambut di
kota Kuala Kapuas. Kota yang juga di belah sungai raksasa ini, setelah 4
jam perjalanan, tibalah dikota berjuluk Kota Cantik, Palangka Raya.
Menuju sebuah rumah Betang khas suku
Dayak di Jalan D.I Panjaitan. Meski bukan merupakan rumah Betang asli
buatan suku Dayak pedalaman, namun rumah milik pemerintah setempat ini
mampu mewakili bentuk aslinya.
Di samping kiri kanan bangunan utama,
terdapat beberapa patung khas Dayak berwujud manusia. Setiap patung
memiliki tampilan yang berbeda. Ukurannya pun tak sama. Di sudut
lain dijumpai sebuah rumah kecil bernama sandung. Komplek replika rumah
Dayak ini di namakan Mandala Wisata. Tujuannya adalah
untuk menggelar kesenian budaya Dayak secara berkala, serta mengenalkan
pada siapapun tentang keunikan rumah Betang.

Perkampungan kecil bernama Kereng
Bangkirai. Perjalanan sekitar 30 menit , suguhan pemandangan hamparan
sungai mirip sebuah danau raksasa. Lalu lalang klotok kecil
diatasnya, mengesankan transport utama warga warga setempat serta
beberapa anak-anak desa sedang asyik mandi
Berkeliling Sungai Sebangau dengan menaiki klotok kecil yang dapat dicarter dengan bertarif murah
Mengunjungi Batu Ampar. Sebuah lokasi yang selama ini dijadikan warga sekitar untuk mencari batu alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari dermaga Kereng Bangkirai. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. bak danau raksasa.
Ribuan pohon rasau terlihat merayap di atas air. Di celah-celah sempit nya rimbunan tersebut sang klotok melaju.
Batu Ampar adalah sebuah hamparan lahan kosong yang di bawahnya terdapat limpahan hasil bumi berupa batu alam. Sejak kawasan ini di tetapkan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau, batu alam di sekitar Batu Ampar agak dibatasi pemanfaatannya.
Mengunjungi Batu Ampar. Sebuah lokasi yang selama ini dijadikan warga sekitar untuk mencari batu alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari dermaga Kereng Bangkirai. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. bak danau raksasa.
Ribuan pohon rasau terlihat merayap di atas air. Di celah-celah sempit nya rimbunan tersebut sang klotok melaju.
Batu Ampar adalah sebuah hamparan lahan kosong yang di bawahnya terdapat limpahan hasil bumi berupa batu alam. Sejak kawasan ini di tetapkan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau, batu alam di sekitar Batu Ampar agak dibatasi pemanfaatannya.
Klotok kecil merayap di permukaan air
yang warnanya persis seperti air teh pekat. Kondisi tersebut disebabkan
endapan akar-akar lahan gambut di sekitarnya. Langit senja menyembul di
sekitar rimbunnya pepohonan rasau. Kilau nya memantul di atas air.
Menambah cantik pemandangan.
Kawasan Yos Sudarso
terkenal dengan penjaja makanan malam nya yang beragam. Mulai dari
lalapan hingga sayur umbut rotan khas Dayak. Untuk menu khas Dayak atau
Nasi Goreng yang khas
Tugu Soekarno di depan
kantor DPRD Provinsi Kalteng. Tugu berbentuk seperti runcing-runcing
bambu tersebut merupakan situs sejarah yang pernah dibangun Presiden
Soekarno. Tujuannya adalah sebagai tanda mulai di bangunnya Palangka
Raya dari nol. Konon katanya, Soekarno akan menjadikan kota ini sebagai
ibukota RI. . Kota kecil ini ternyata pernah menjadi impian Soekarno
untuk ibukota negara.
Dermaga kayu. dengan kapal wisata susur
sungai milik dinas wisata setempat. Namanya KM Lasang Teras Garu. Kapal
yang beberapa bulan terakhir dimanfaatkan untuk membawa puluhan
wisatawan menikmati pesona Sungai Kahayan. Dengan hanya Rp 75 ribu
, bisa membuktikan jika Sungai Kahayan sangat indah bila dinikmati dari
atas kapal.
Rute pertama kapal adalah persimpangan
antara Sungai Kahayan dan Sungai Rungan. Perjalanan sekitar 1 jam lebih.
Jembatan Kahayan segera menyambut kapal . Kiri kanan sungai disuguhi
pemandangan hutan tropis khas Kalimantan. Barisan rapat pepohonan hijau
tersebut membentuk lanskap yang sedap dipandang. Sesekali berselisih
dengan klotok kecil milik warga di sekitar Sungai Kahayan. Umumnya
klotok-klotok tersebut digunakan warga untuk mencari ikan air tawar yang
banyak di jumpai di Kahayan. Diantaranya ikan baung, ikan lais, ikan
patin sungai, ikan tapah hingga jelawat yang terkenal lezat.
Situs sejarah Tajahan Tjilik Riwut-
Di persimpangan Sungai Kahayan dan Sungai Rungan, kapal berbalik arah.
Disanalah terdapat situs sejarah ini . Tajahan merupakan lokasi keramat
yang sangat disucikan oleh suku Dayak khususnya yang berkeyakinan
Kaharingan. Jika mempunyai keinginan yang terkabul, warga Dayak biasanya
menaruh kain kuning dan sesaji di tajahan. konon , tajahan ini
merupakan tajahan yang sering dikunjungi pahlawan nasional asal Kalteng,
Tjilik Riwut. Di sekitar tajahan tersebut terdapat enam buah rumah mini
yang isinya ditemui beberapa telur dan tulang untuk sesajen.
Dari atas dek kapal , makin leluasa
menyaksikan pemandangan di sepanjang sungai yang membelah Palangka Raya
ini. Kapal kembali merayap di bawah Jembatan Kahayan. Rute selanjutnya
adalah menyaksikan perkampungan di atas sungai. Warga setempat
menyebutnya rumah lanting. Rumah terapung yang hanya
ditopang beberapa kayu gelondongan. Tak hanya sebagai sebagai rumah
tinggal saja, warga juga memanfaatkan “halaman” nya sebagai lahan untuk
bertambak ikan air tawar. Kios dengan aneka jenis dagangan pun, tak
jarang saya temui disini.
Untuk menuju perkotaan, salah satu
transportasi favorit adalah klotok bermesin. Warga setempat sangat
bergantung pada sungai. Rumah, pekerjaan dan segala jenis kebutuhan lain
sangat bergantung pada Kahayan.
Tak terasa 3 jam perjalanan di atas
kapal. dengan mendapatkan Banyak pengalaman. Betapa alam dan manusia
berpadu manis di sepanjang Kahayan . Kapal kembali merapat di dermaga.
Kuliner khas Dayak ,RM Samba adalah
tempat favorit untuk menyantap menu khas Dayak di Kalteng. ,ikan jelawat
bakar. Menu pelengkap nya adalah sayur asam rotan muda, sambal tomat,
sayur serai yang diulek dengan ikan sungai dan sepiring nasi putih.
Wisata Belanja. Jalan Batam di sudut lain
Palangka Raya menyediakan begitu banyak toko oleh-oleh. Tak hanya
Mandau pedang khas Dayak, puluhan toko disini juga menjajakan kain khas
Dayak bermotif batang garing, perahu karet nyatu, gelang simpay, tikar
lampit, kaos hingga amplang yang berbahan utama ikan pipih.
Pasar souvenir andalan Palangka Raya ini juga terkenal di kalangan wisatawan asing yang bertandang ke Kalteng.
Di pasar ini banyak ditumukan turis manca
negara karena, Sebagian besar turis asing menjadikan Palangka Raya
sebagai pintu masuk utama menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang
berjarak sekitar 11 jam perjalanan darat.
Museum Balanga di Jalan Tjilik Riwut.
memaparkan sejarah dan budaya suku Dayak di Kalteng. Suasana
memasuki ruangan luas yang terdapat banyak sekat. Dimana-mana sama,
berkesan sepi dan agak sedikit angker. Melihat penyang. Sebuah kalung
milik warga Dayak jaman dulu yang diyakini sebagai penangkal dari bahaya
musuh. Kalung kuno tersebut dihiasi oleh jejeran gigi beruang seukuran
jari kelingking orang dewasa.
Palangka Raya Hotel
KALAU KE PALANGKA RAYA JANGAN LUPA NGINAP DI TEMPAT YANG ENAK YA NI TEMPATNYA
Aquarius Boutique Hotel
Jl Imam Bonjol no 5, 73111 Palangkaraya
(Lihat lokasi)
Terletak di kawasan bisnis Kota Palangkaraya, hotel ini berjarak 5
menit jalan kaki dari Palma Mall. Hotel menawarkan kolam renang outdoor,
spa, dan gym. Sebuah pusat bisnis dan restoran juga tersedia.
Aquarius Boutique Hotel berjarak 10 menit dari Megatop Shopping Centre dan 15 menit berkendara dari Bandara Internasional Tjilik Riwut. Bukit Tengkiling terletak sejauh 1 jam berkendara. Memiliki lantai kayu, kamar-kamar kontemporer ber-AC hotel ini dilengkapi dengan lemari dan TV layar datar dengan saluran kabel. Kamar mandi en suite-nya menyediakan fasilitas shower dan peralatan mandi. Minibar juga terdapat dalam kamar. Anda dapat bersantai di sauna, atau bernyanyi sepuasnya dalam sesi karaoke. Fasilitas lainnya termasuk fasilitas rapat/perjamuan, meja layanan wisata, dan pusat bisnis. Wi-Fi gratis tersedia di area umumnya. Aquarius Boutique Hotel Restaurant menyajikan hidangan Indonesia dan internasional. Anda juga dapat menikmati santapan di dalam kamar |
Swiss-Belhotel Danum
Terletak di pinggiran kota Palangka Raya, Swiss-Belhotel Danum
Palangkaraya yang berbintang 4 ini menawarkan kamar-kamar yang nyaman
dengan dekorasi bergaya etnik Dayak. Properti ini menawarkan kolam
renang outdoor, restoran, dan Wi-Fi gratis.
Kamar-kamar yang elegan menampilkan interior mewah dan tata cahaya
yang hangat. Masing-masing kamarnya yang indah dilengkapi dengan TV
layar datar, dan memiliki ruang duduk dan kamar mandi en suite.Restorannya menyajikan prasmanan khas lokal dan internasional. Menu ala carte dan bersantap dalam kamar juga disediakan.
Bagi yang ingin menjelajahi daerah sekitarnya, Anda dapat memesan penyewaan mobil dan memesan perjalanan wisata di meja layanan wisata. Pusat bisnis dan tempat bermain anak-anak juga ada di hotel.
Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya berjarak 10 menit berkendara dari Palma Shopping Centre dan 20 menit berkendara dari Bandara Tjilik Riwut. Nyaru Menteng dapat dicapai dalam 30 menit berkendara dari hotel.
Amaris Hotel
Terletak di Kalimantan Tengah, Amaris Hotel Palangkaraya memiliki sebuah restoran dan pusat bisnis. Hotel ini juga menawarkan kamar-kamar bertema warna yang modern dengan TV layar datar dan akses Wi-Fi gratis.
Amaris Hotel Palangkaraya dapat dicapai dalam waktu 10 menit berkendara dari taman-taman tropis dan Orang Utan di Arboretum. Dari hotel, dibutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki menuju Sungai Kahayan (Sungai Dayak Besar), di mana Anda dapat berwisata dengan kapal pesiar untuk mengunjungi suku-suku asli.
Dilengkapi dengan lantai kayu, kamar-kamar ber-AC yang bergaya di Amaris Hotel menampilkan dinding berwarna cerah dan TV kabel. Tersedia kamar mandi pribadi dan brankas pribadi.
Hotel ini menyediakan meja depan 24 jam dan parkir gratis di tempat. @Express Restaurant menyajikan masakan Indonesia.
luwansa Hotel
Jl G Obos, | Palangka Raya, Palangkaraya, IndonesiaObyek Wisata Palangkaraya "SEJARAH"
DANAU TAHAI
Danau ini merupakan danau alam yang terbentuk karena adanya perubahan aliran sungai Kahayan. Danau Tahai berjarak sekitar 30 KM dari pusat kota.
Danau Tahai memiliki keunikan yang mungkin tidak dimiliki oleh danau-danau lainnya (terutama di luar Pulau Kalimantan), yaitu airnya berwarna merah—yang disebabkan oleh akar-akar pohon di lahan gambut. Di sekitar danau, pengunjung juga dapat menyaksikan pemandangan yang unik, yaitu banyak terdapat rumah-rumah terapung—yang oleh penduduk setempat disebut sebagai rumah lanting.
Lokasi danau ini mudah dijangkau. Lokasinya yang berada di pinggir jalan Palangkaraya—Sampit membuat Danau Tahai tidak sulit untuk dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi umum. Jika menggunakan sarana transportasi umum, pengunjung dapat naik bus jurusan Palangkaraya—Sampit dengan jarak tempuh sekitar 30 km dan turun di Desa Tahai. Dari Desa Tahai, pengunjung dapat langsung menuju lokasi danau cukup dengan berjalan kaki.
Selain memiliki panorama yang sangat indah, obyek wisata Danau Tahai juga dilengkapi dengan sarana akomodasi dan fasilitas yang cukup lengkap, di antaranya: sepeda air angsa, tempat duduk santai, perahu dayung/bermotor yang bisa disewa jika pengunjung ingin mengelilingi danau, jembatan/titian penghubung, tempat karaoke, rumah makan terapung, mushola, WC umum, dan areal parkir yang dilengkapi dengan pos keamanan di pintu masuknya.
ARBORETUM NYARU MENTENG
enangkaran Orangutan Nyaru Menteng milik Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) yang tidak jauh dari lokasi Danau Tahai ini. Di lokasi penangkaran ini, pengunjung dapat menyaksikan kelucuan tingkah-laku orangutan yang berada di kandangnya. Selain melihat orangutan, pengunjung juga dapat mencoba tracking ke dalam hutan yang masih terjaga kelestariannya di sekitar areal penangkaran ini. Namun, tempat penangkaran ini tidak buka setiap hari. Hanya pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya lokasi penangkaran ini dibuka untuk umum.
TAMAN WISATA KUM-KUM
Kumkum berupa salah satu tujuan wisata masyarakat di PalangkaRaya , dan mungkin merupakan salah satu tujuan wisata paling dekat. Dan karena satu-satunya tujuan wisata yang paling dekat, maka sangat wajar jika di hari-hari tertentu tempat wisata ini sangat ramai sekali.
MUSEUM BALANGA
Museum ini terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5 dengan luas kurang lebih 5 (lima) Ha. Museum ini berada di dalam kota Palangka Raya dan mudah untuk dikunjungi karena dibuka setiap hari dari jam 08.00 – 12.00 WIB, dan ada petugas pemandu.
Museum Belanga ini berkiprah sebagai lembaga pelestarian, pendokumentasian, serta penyajian berbagai koleksi peninggalan budaya suku Dayak dan segala yang berkaitan dengan sejarah kehidupan suku dayak, seperti ethnografika, barang-barang warisan leluhur dayak yang banyak memiliki kekuatan megic. Di museum ini tersimpan juga berbagai alat tradisonal yang biasa dipakai oleh suku Dayak pada jaman dahulu seperti ―Mihing― (sebuah penangkap ikan tradisional), baju sakarut atau baju Karungkong Sulau, atau juga baju Basurat yang biasa dipakai pada upacara ritual, senjata-senjata suku Dayak seperti Mandau, Sumpitan, Duhung, dan sebagainya.
TAMAN WISATA ALAM BUKIT TANGKILING
Obyek wisata ini berjarak sekitar ± 34 Km dari Pusat Kota Palangka Raya, dengan waktu tempuh kira- kira 45 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan melewati jalan aspal dan untuk mencapai ke puncak bukit dengan melewati jalan setapak.
Lokasi obyek wisata ini secara geografis terletak di Kelurahan Banturung dan Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu. Luas keseluruhan kawasan wisata ini adalah 2.594 Ha, dengan rincian sebagai berikut: Cagar Alam seluas 2.061 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 533 Ha.
BATU BANAMA
Obyek wisata Batu Banama ini selain menawarkan panorama alam yang indah juga bisa dikategorikan sebagai wisata yang mengandung relegius, karena pada lokasi areal wisata ini terdapat Pura Agung Sali Paseban/Satya Dharma. Disamping itu legenda mengenai terjadinya batu banama itu sendiri yang dilihat dari samping mirip seperti sebuah bahtera yang terdampar.
RUMAH BETANG
Rumah Betang (rumah panjang, rumah besar) merupakan rumah adat Dayak. Sesuai dengan namanya rumah ini berukuran besar yang mampu menampung puluhan orang atau keluarga yang mempunyai ikatan keluarga. Rumah betang sudah jarang ditemui, namun di Kota Palangka Raya terdapat satu rumah betang yang sengaja dibangun sebagai percontohan di Jl. D.I Penjaitan Kota Palangka Raya. Pada momen-momen tertentu, di rumah betang ini sering dijadikan lokasi pertunjukan/festival budaya Dayak. Rumah betang ini juga sering dijadikan tempat/objek foto bagi sebagian masyarakat baik warga pendatang maupun lokal. Walaupun rumah betang sudah semakin jarang dipergunakan oleh masyarakat Dayak, namun falsafah hidup rumah betang masih tertanam dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak misalnya, sangat menghargai perbedaan dan itu cermin dalam kehidupan rumah betang dimana di dalam satu keluarga biasa terdiri dari berbagai macam kepercayaan atau agama. Seperti Islam, Kristen dan Hindu Kaharingan. Mereka dapat hidup rukun dan saling menghargai walaupun berbeda-beda kepercayaan dan agama. Kekeluargaan, kegotong royongan, persatuan dan kesatuan merupakan sikap dan prilaku kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak yang tercermin dalam falsafah hidup rumah betang.
SANDUNG
Di Kota Palangka Raya terdapat Sandung Ngabe Sukah, terletak di Jl. Dr. Murjani, Kecamatan Pahandut. Sandung adalah sebuah bangunan kecil yang khusus diperuntukan bagi penyimpanan tulang belulang orang yang telah meninggal setelah melalui upacara. tiwah.
PERAHU WISATA SUSUR SUNGAI
Perahu wisata yang diberi nama Rahai’i Pangun ini, merupakan perahu wisata yang dibuat dengan konsep tradisionil-modern (hasil rancangan pembuat perahu lokal dan arsitek kapal dari perancis). Perahu wisata ini memiliki 5 (lima) dobel kabin yang terletak di bawah dek dengan 3 (tiga) kamar mandi (western style) yang sangat nyaman. Dek tengah di bagian belakang dengan dapur, ruang makan, dan tempat duduk yang dilengkapi dengan perpustakaan dan snack-bar. Dek atas dengan atap terpaulin, kursi lipat dan sofa rotan untuk bersantai dan melihat keunikan sungai di Kalimantan Tengah.
Danau ini merupakan danau alam yang terbentuk karena adanya perubahan aliran sungai Kahayan. Danau Tahai berjarak sekitar 30 KM dari pusat kota.
Danau Tahai memiliki keunikan yang mungkin tidak dimiliki oleh danau-danau lainnya (terutama di luar Pulau Kalimantan), yaitu airnya berwarna merah—yang disebabkan oleh akar-akar pohon di lahan gambut. Di sekitar danau, pengunjung juga dapat menyaksikan pemandangan yang unik, yaitu banyak terdapat rumah-rumah terapung—yang oleh penduduk setempat disebut sebagai rumah lanting.
Lokasi danau ini mudah dijangkau. Lokasinya yang berada di pinggir jalan Palangkaraya—Sampit membuat Danau Tahai tidak sulit untuk dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi umum. Jika menggunakan sarana transportasi umum, pengunjung dapat naik bus jurusan Palangkaraya—Sampit dengan jarak tempuh sekitar 30 km dan turun di Desa Tahai. Dari Desa Tahai, pengunjung dapat langsung menuju lokasi danau cukup dengan berjalan kaki.
Selain memiliki panorama yang sangat indah, obyek wisata Danau Tahai juga dilengkapi dengan sarana akomodasi dan fasilitas yang cukup lengkap, di antaranya: sepeda air angsa, tempat duduk santai, perahu dayung/bermotor yang bisa disewa jika pengunjung ingin mengelilingi danau, jembatan/titian penghubung, tempat karaoke, rumah makan terapung, mushola, WC umum, dan areal parkir yang dilengkapi dengan pos keamanan di pintu masuknya.
ARBORETUM NYARU MENTENG
enangkaran Orangutan Nyaru Menteng milik Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) yang tidak jauh dari lokasi Danau Tahai ini. Di lokasi penangkaran ini, pengunjung dapat menyaksikan kelucuan tingkah-laku orangutan yang berada di kandangnya. Selain melihat orangutan, pengunjung juga dapat mencoba tracking ke dalam hutan yang masih terjaga kelestariannya di sekitar areal penangkaran ini. Namun, tempat penangkaran ini tidak buka setiap hari. Hanya pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya lokasi penangkaran ini dibuka untuk umum.
TAMAN WISATA KUM-KUM
Kumkum berupa salah satu tujuan wisata masyarakat di PalangkaRaya , dan mungkin merupakan salah satu tujuan wisata paling dekat. Dan karena satu-satunya tujuan wisata yang paling dekat, maka sangat wajar jika di hari-hari tertentu tempat wisata ini sangat ramai sekali.
MUSEUM BALANGA
Museum ini terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5 dengan luas kurang lebih 5 (lima) Ha. Museum ini berada di dalam kota Palangka Raya dan mudah untuk dikunjungi karena dibuka setiap hari dari jam 08.00 – 12.00 WIB, dan ada petugas pemandu.
Museum Belanga ini berkiprah sebagai lembaga pelestarian, pendokumentasian, serta penyajian berbagai koleksi peninggalan budaya suku Dayak dan segala yang berkaitan dengan sejarah kehidupan suku dayak, seperti ethnografika, barang-barang warisan leluhur dayak yang banyak memiliki kekuatan megic. Di museum ini tersimpan juga berbagai alat tradisonal yang biasa dipakai oleh suku Dayak pada jaman dahulu seperti ―Mihing― (sebuah penangkap ikan tradisional), baju sakarut atau baju Karungkong Sulau, atau juga baju Basurat yang biasa dipakai pada upacara ritual, senjata-senjata suku Dayak seperti Mandau, Sumpitan, Duhung, dan sebagainya.
TAMAN WISATA ALAM BUKIT TANGKILING
Obyek wisata ini berjarak sekitar ± 34 Km dari Pusat Kota Palangka Raya, dengan waktu tempuh kira- kira 45 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan melewati jalan aspal dan untuk mencapai ke puncak bukit dengan melewati jalan setapak.
Lokasi obyek wisata ini secara geografis terletak di Kelurahan Banturung dan Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu. Luas keseluruhan kawasan wisata ini adalah 2.594 Ha, dengan rincian sebagai berikut: Cagar Alam seluas 2.061 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 533 Ha.
BATU BANAMA
Obyek wisata Batu Banama ini selain menawarkan panorama alam yang indah juga bisa dikategorikan sebagai wisata yang mengandung relegius, karena pada lokasi areal wisata ini terdapat Pura Agung Sali Paseban/Satya Dharma. Disamping itu legenda mengenai terjadinya batu banama itu sendiri yang dilihat dari samping mirip seperti sebuah bahtera yang terdampar.
RUMAH BETANG
Rumah Betang (rumah panjang, rumah besar) merupakan rumah adat Dayak. Sesuai dengan namanya rumah ini berukuran besar yang mampu menampung puluhan orang atau keluarga yang mempunyai ikatan keluarga. Rumah betang sudah jarang ditemui, namun di Kota Palangka Raya terdapat satu rumah betang yang sengaja dibangun sebagai percontohan di Jl. D.I Penjaitan Kota Palangka Raya. Pada momen-momen tertentu, di rumah betang ini sering dijadikan lokasi pertunjukan/festival budaya Dayak. Rumah betang ini juga sering dijadikan tempat/objek foto bagi sebagian masyarakat baik warga pendatang maupun lokal. Walaupun rumah betang sudah semakin jarang dipergunakan oleh masyarakat Dayak, namun falsafah hidup rumah betang masih tertanam dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak misalnya, sangat menghargai perbedaan dan itu cermin dalam kehidupan rumah betang dimana di dalam satu keluarga biasa terdiri dari berbagai macam kepercayaan atau agama. Seperti Islam, Kristen dan Hindu Kaharingan. Mereka dapat hidup rukun dan saling menghargai walaupun berbeda-beda kepercayaan dan agama. Kekeluargaan, kegotong royongan, persatuan dan kesatuan merupakan sikap dan prilaku kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak yang tercermin dalam falsafah hidup rumah betang.
SANDUNG
Di Kota Palangka Raya terdapat Sandung Ngabe Sukah, terletak di Jl. Dr. Murjani, Kecamatan Pahandut. Sandung adalah sebuah bangunan kecil yang khusus diperuntukan bagi penyimpanan tulang belulang orang yang telah meninggal setelah melalui upacara. tiwah.
PERAHU WISATA SUSUR SUNGAI
Perahu wisata yang diberi nama Rahai’i Pangun ini, merupakan perahu wisata yang dibuat dengan konsep tradisionil-modern (hasil rancangan pembuat perahu lokal dan arsitek kapal dari perancis). Perahu wisata ini memiliki 5 (lima) dobel kabin yang terletak di bawah dek dengan 3 (tiga) kamar mandi (western style) yang sangat nyaman. Dek tengah di bagian belakang dengan dapur, ruang makan, dan tempat duduk yang dilengkapi dengan perpustakaan dan snack-bar. Dek atas dengan atap terpaulin, kursi lipat dan sofa rotan untuk bersantai dan melihat keunikan sungai di Kalimantan Tengah.
Kamis, 21 November 2013
PALANGKARAYA HOTEL
KALAU KE PALANGKA RAYA JANGAN LUPA NGINAP DI TEMPAT YANG ENAK YA NI TEMPATNYA
Aquarius Boutique Hotel
Jl Imam Bonjol no 5, 73111 Palangkaraya
(Lihat lokasi)
Terletak di kawasan bisnis Kota Palangkaraya, hotel ini berjarak 5
menit jalan kaki dari Palma Mall. Hotel menawarkan kolam renang outdoor,
spa, dan gym. Sebuah pusat bisnis dan restoran juga tersedia.
Aquarius Boutique Hotel berjarak 10 menit dari Megatop Shopping Centre dan 15 menit berkendara dari Bandara Internasional Tjilik Riwut. Bukit Tengkiling terletak sejauh 1 jam berkendara. Memiliki lantai kayu, kamar-kamar kontemporer ber-AC hotel ini dilengkapi dengan lemari dan TV layar datar dengan saluran kabel. Kamar mandi en suite-nya menyediakan fasilitas shower dan peralatan mandi. Minibar juga terdapat dalam kamar. Anda dapat bersantai di sauna, atau bernyanyi sepuasnya dalam sesi karaoke. Fasilitas lainnya termasuk fasilitas rapat/perjamuan, meja layanan wisata, dan pusat bisnis. Wi-Fi gratis tersedia di area umumnya. Aquarius Boutique Hotel Restaurant menyajikan hidangan Indonesia dan internasional. Anda juga dapat menikmati santapan di dalam kamar |
Swiss-Belhotel Danum
Terletak di pinggiran kota Palangka Raya, Swiss-Belhotel Danum
Palangkaraya yang berbintang 4 ini menawarkan kamar-kamar yang nyaman
dengan dekorasi bergaya etnik Dayak. Properti ini menawarkan kolam
renang outdoor, restoran, dan Wi-Fi gratis.
Kamar-kamar yang elegan menampilkan interior mewah dan tata cahaya
yang hangat. Masing-masing kamarnya yang indah dilengkapi dengan TV
layar datar, dan memiliki ruang duduk dan kamar mandi en suite.Restorannya menyajikan prasmanan khas lokal dan internasional. Menu ala carte dan bersantap dalam kamar juga disediakan.
Bagi yang ingin menjelajahi daerah sekitarnya, Anda dapat memesan penyewaan mobil dan memesan perjalanan wisata di meja layanan wisata. Pusat bisnis dan tempat bermain anak-anak juga ada di hotel.
Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya berjarak 10 menit berkendara dari Palma Shopping Centre dan 20 menit berkendara dari Bandara Tjilik Riwut. Nyaru Menteng dapat dicapai dalam 30 menit berkendara dari hotel.
Amaris Hotel
Terletak di Kalimantan Tengah, Amaris Hotel Palangkaraya memiliki
sebuah restoran dan pusat bisnis. Hotel ini juga menawarkan kamar-kamar
bertema warna yang modern dengan TV layar datar dan akses Wi-Fi gratis.
Amaris Hotel Palangkaraya dapat dicapai dalam waktu 10 menit berkendara dari taman-taman tropis dan Orang Utan di Arboretum. Dari hotel, dibutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki menuju Sungai Kahayan (Sungai Dayak Besar), di mana Anda dapat berwisata dengan kapal pesiar untuk mengunjungi suku-suku asli.
Dilengkapi dengan lantai kayu, kamar-kamar ber-AC yang bergaya di Amaris Hotel menampilkan dinding berwarna cerah dan TV kabel. Tersedia kamar mandi pribadi dan brankas pribadi.
Hotel ini menyediakan meja depan 24 jam dan parkir gratis di tempat. @Express Restaurant menyajikan masakan Indonesia.
Amaris Hotel Palangkaraya dapat dicapai dalam waktu 10 menit berkendara dari taman-taman tropis dan Orang Utan di Arboretum. Dari hotel, dibutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki menuju Sungai Kahayan (Sungai Dayak Besar), di mana Anda dapat berwisata dengan kapal pesiar untuk mengunjungi suku-suku asli.
Dilengkapi dengan lantai kayu, kamar-kamar ber-AC yang bergaya di Amaris Hotel menampilkan dinding berwarna cerah dan TV kabel. Tersedia kamar mandi pribadi dan brankas pribadi.
Hotel ini menyediakan meja depan 24 jam dan parkir gratis di tempat. @Express Restaurant menyajikan masakan Indonesia.
luwansa Hotel
Langganan:
Postingan (Atom)

































