DANAU TAHAI
Danau ini merupakan danau alam yang terbentuk karena adanya perubahan
aliran sungai Kahayan. Danau Tahai berjarak sekitar 30 KM dari pusat
kota.
Danau Tahai memiliki keunikan yang mungkin tidak dimiliki oleh
danau-danau lainnya (terutama di luar Pulau Kalimantan), yaitu airnya
berwarna merah—yang disebabkan oleh akar-akar pohon di lahan gambut. Di
sekitar danau, pengunjung juga dapat menyaksikan pemandangan yang unik,
yaitu banyak terdapat rumah-rumah terapung—yang oleh penduduk setempat
disebut sebagai rumah lanting.
Lokasi danau ini mudah dijangkau. Lokasinya yang berada di pinggir jalan
Palangkaraya—Sampit membuat Danau Tahai tidak sulit untuk dijangkau,
baik dengan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi umum. Jika
menggunakan sarana transportasi umum, pengunjung dapat naik bus jurusan
Palangkaraya—Sampit dengan jarak tempuh sekitar 30 km dan turun di Desa
Tahai. Dari Desa Tahai, pengunjung dapat langsung menuju lokasi danau
cukup dengan berjalan kaki.
Selain memiliki panorama yang sangat indah, obyek wisata Danau Tahai
juga dilengkapi dengan sarana akomodasi dan fasilitas yang cukup
lengkap, di antaranya: sepeda air angsa, tempat duduk santai, perahu
dayung/bermotor yang bisa disewa jika pengunjung ingin mengelilingi
danau, jembatan/titian penghubung, tempat karaoke, rumah makan terapung,
mushola, WC umum, dan areal parkir yang dilengkapi dengan pos keamanan
di pintu masuknya.
ARBORETUM NYARU MENTENG
enangkaran Orangutan Nyaru Menteng milik Yayasan BOS (Borneo Orangutan
Survival) yang tidak jauh dari lokasi Danau Tahai ini. Di lokasi
penangkaran ini, pengunjung dapat menyaksikan kelucuan tingkah-laku
orangutan yang berada di kandangnya. Selain melihat orangutan,
pengunjung juga dapat mencoba tracking ke dalam hutan yang masih terjaga
kelestariannya di sekitar areal penangkaran ini. Namun, tempat
penangkaran ini tidak buka setiap hari. Hanya pada hari Minggu dan
hari-hari libur lainnya lokasi penangkaran ini dibuka untuk umum.
TAMAN WISATA KUM-KUM
Kumkum berupa salah satu tujuan wisata masyarakat di PalangkaRaya , dan
mungkin merupakan salah satu tujuan wisata paling dekat. Dan karena
satu-satunya tujuan wisata yang paling dekat, maka sangat wajar jika di
hari-hari tertentu tempat wisata ini sangat ramai sekali.
MUSEUM BALANGA
Museum ini terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5 dengan luas kurang
lebih 5 (lima) Ha. Museum ini berada di dalam kota Palangka Raya dan
mudah untuk dikunjungi karena dibuka setiap hari dari jam 08.00 – 12.00
WIB, dan ada petugas pemandu.
Museum Belanga ini berkiprah sebagai lembaga pelestarian,
pendokumentasian, serta penyajian berbagai koleksi peninggalan budaya
suku Dayak dan segala yang berkaitan dengan sejarah kehidupan suku
dayak, seperti ethnografika, barang-barang warisan leluhur dayak yang
banyak memiliki kekuatan megic. Di museum ini tersimpan juga berbagai
alat tradisonal yang biasa dipakai oleh suku Dayak pada jaman dahulu
seperti ―Mihing― (sebuah penangkap ikan tradisional), baju sakarut atau
baju Karungkong Sulau, atau juga baju Basurat yang biasa dipakai pada
upacara ritual, senjata-senjata suku Dayak seperti Mandau, Sumpitan,
Duhung, dan sebagainya.
TAMAN WISATA ALAM BUKIT TANGKILING
Obyek wisata ini berjarak sekitar ± 34 Km dari Pusat Kota Palangka Raya,
dengan waktu tempuh kira- kira 45 menit dengan menggunakan kendaraan
roda dua maupun roda empat, dengan melewati jalan aspal dan untuk
mencapai ke puncak bukit dengan melewati jalan setapak.
Lokasi obyek wisata ini secara geografis terletak di Kelurahan
Banturung dan Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu. Luas
keseluruhan kawasan wisata ini adalah 2.594 Ha, dengan rincian sebagai
berikut: Cagar Alam seluas 2.061 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 533 Ha.
BATU BANAMA
Obyek wisata Batu Banama ini selain menawarkan panorama alam yang indah
juga bisa dikategorikan sebagai wisata yang mengandung relegius, karena
pada lokasi areal wisata ini terdapat Pura Agung Sali Paseban/Satya
Dharma. Disamping itu legenda mengenai terjadinya batu banama itu
sendiri yang dilihat dari samping mirip seperti sebuah bahtera yang
terdampar.
RUMAH BETANG
Rumah Betang (rumah panjang, rumah besar) merupakan rumah adat Dayak.
Sesuai dengan namanya rumah ini berukuran besar yang mampu menampung
puluhan orang atau keluarga yang mempunyai ikatan keluarga. Rumah betang
sudah jarang ditemui, namun di Kota Palangka Raya terdapat satu rumah
betang yang sengaja dibangun sebagai percontohan di Jl. D.I Penjaitan
Kota Palangka Raya. Pada momen-momen tertentu, di rumah betang ini
sering dijadikan lokasi pertunjukan/festival budaya Dayak. Rumah betang
ini juga sering dijadikan tempat/objek foto bagi sebagian masyarakat
baik warga pendatang maupun lokal. Walaupun rumah betang sudah semakin
jarang dipergunakan oleh masyarakat Dayak, namun falsafah hidup rumah
betang masih tertanam dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat
Dayak. Masyarakat Dayak misalnya, sangat menghargai perbedaan dan itu
cermin dalam kehidupan rumah betang dimana di dalam satu keluarga biasa
terdiri dari berbagai macam kepercayaan atau agama. Seperti Islam,
Kristen dan Hindu Kaharingan. Mereka dapat hidup rukun dan saling
menghargai walaupun berbeda-beda kepercayaan dan agama. Kekeluargaan,
kegotong royongan, persatuan dan kesatuan merupakan sikap dan prilaku
kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak yang tercermin dalam falsafah
hidup rumah betang.
SANDUNG
Di Kota Palangka Raya terdapat Sandung Ngabe Sukah, terletak di Jl. Dr.
Murjani, Kecamatan Pahandut. Sandung adalah sebuah bangunan kecil yang
khusus diperuntukan bagi penyimpanan tulang belulang orang yang telah
meninggal setelah melalui upacara. tiwah.
PERAHU WISATA SUSUR SUNGAI
Perahu wisata yang diberi nama Rahai’i Pangun ini, merupakan perahu
wisata yang dibuat dengan konsep tradisionil-modern (hasil rancangan
pembuat perahu lokal dan arsitek kapal dari perancis). Perahu wisata ini
memiliki 5 (lima) dobel kabin yang terletak di bawah dek dengan 3
(tiga) kamar mandi (western style) yang sangat nyaman. Dek tengah di
bagian belakang dengan dapur, ruang makan, dan tempat duduk yang
dilengkapi dengan perpustakaan dan snack-bar. Dek atas dengan atap
terpaulin, kursi lipat dan sofa rotan untuk bersantai dan melihat
keunikan sungai di Kalimantan Tengah.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar