Menjelajah Kota Impian Palangkaraya
Kota yang dibelah Sungai Kahayan
ini mungkin masih belum menjadi kota tujuan utama pariwisata. Pamor nya
tak sekencang kota destinasi pariwisata Indonesia . Namun siapa sangka,
ibukota Kalimantan Tengah ini mengoleksi cukup banyak objek menarik
yang sayang dilewatkan begitu saja. Tak hanya menawarkan wisata susur
sungai ke pedalaman, sebagai ibukota provinsi ini juga memiliki
sederetan objek alam, budaya, sejarah, belanja oleh-oleh hingga kuliner
khas Dayak.
Dari Banjarmasin menuju Palangka Raya.
Perjalanan darat ditempuh sekitar 4 jam, dengan membelah salah satu
jalur Trans Kalimantan. Megahnya Jembatan Barito
dijumpai sekitar 30 menit perjalanan, jembatan kebanggaan warga Kalsel.
Sungai Barito di bawahnya membentang gagah sejauh sekitar 900 kilometer
hingga berujung di Pegunungan Muller. dan sepanjang perjalanan menuju
Palangka Raya banyak sungai besar lainnya yang ditemui.
Sepanjang Sungai-sungai khas Borneo
tersebut begitu cantik dan alami , perpaduan Warna kecoklatan pada air
nya dengan hijau hutan rimbun di sepanjang tepiannya, berhenti sejenak
di atas jembatan untuk mengagumi sungai-sungai eksotis tersebut.
Sebuah tugu berornamen Dayak menyambut di
kota Kuala Kapuas. Kota yang juga di belah sungai raksasa ini, setelah 4
jam perjalanan, tibalah dikota berjuluk Kota Cantik, Palangka Raya.
Menuju sebuah rumah Betang khas suku
Dayak di Jalan D.I Panjaitan. Meski bukan merupakan rumah Betang asli
buatan suku Dayak pedalaman, namun rumah milik pemerintah setempat ini
mampu mewakili bentuk aslinya.
Di samping kiri kanan bangunan utama,
terdapat beberapa patung khas Dayak berwujud manusia. Setiap patung
memiliki tampilan yang berbeda. Ukurannya pun tak sama. Di sudut
lain dijumpai sebuah rumah kecil bernama sandung. Komplek replika rumah
Dayak ini di namakan Mandala Wisata. Tujuannya adalah
untuk menggelar kesenian budaya Dayak secara berkala, serta mengenalkan
pada siapapun tentang keunikan rumah Betang.

Perkampungan kecil bernama Kereng
Bangkirai. Perjalanan sekitar 30 menit , suguhan pemandangan hamparan
sungai mirip sebuah danau raksasa. Lalu lalang klotok kecil
diatasnya, mengesankan transport utama warga warga setempat serta
beberapa anak-anak desa sedang asyik mandi
Berkeliling Sungai Sebangau dengan menaiki klotok kecil yang dapat dicarter dengan bertarif murah
Mengunjungi Batu Ampar. Sebuah lokasi yang selama ini dijadikan warga sekitar untuk mencari batu alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari dermaga Kereng Bangkirai. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. bak danau raksasa.
Ribuan pohon rasau terlihat merayap di atas air. Di celah-celah sempit nya rimbunan tersebut sang klotok melaju.
Batu Ampar adalah sebuah hamparan lahan kosong yang di bawahnya terdapat limpahan hasil bumi berupa batu alam. Sejak kawasan ini di tetapkan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau, batu alam di sekitar Batu Ampar agak dibatasi pemanfaatannya.
Mengunjungi Batu Ampar. Sebuah lokasi yang selama ini dijadikan warga sekitar untuk mencari batu alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari dermaga Kereng Bangkirai. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. bak danau raksasa.
Ribuan pohon rasau terlihat merayap di atas air. Di celah-celah sempit nya rimbunan tersebut sang klotok melaju.
Batu Ampar adalah sebuah hamparan lahan kosong yang di bawahnya terdapat limpahan hasil bumi berupa batu alam. Sejak kawasan ini di tetapkan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau, batu alam di sekitar Batu Ampar agak dibatasi pemanfaatannya.
Klotok kecil merayap di permukaan air
yang warnanya persis seperti air teh pekat. Kondisi tersebut disebabkan
endapan akar-akar lahan gambut di sekitarnya. Langit senja menyembul di
sekitar rimbunnya pepohonan rasau. Kilau nya memantul di atas air.
Menambah cantik pemandangan.
Kawasan Yos Sudarso
terkenal dengan penjaja makanan malam nya yang beragam. Mulai dari
lalapan hingga sayur umbut rotan khas Dayak. Untuk menu khas Dayak atau
Nasi Goreng yang khas
Tugu Soekarno di depan
kantor DPRD Provinsi Kalteng. Tugu berbentuk seperti runcing-runcing
bambu tersebut merupakan situs sejarah yang pernah dibangun Presiden
Soekarno. Tujuannya adalah sebagai tanda mulai di bangunnya Palangka
Raya dari nol. Konon katanya, Soekarno akan menjadikan kota ini sebagai
ibukota RI. . Kota kecil ini ternyata pernah menjadi impian Soekarno
untuk ibukota negara.
Dermaga kayu. dengan kapal wisata susur
sungai milik dinas wisata setempat. Namanya KM Lasang Teras Garu. Kapal
yang beberapa bulan terakhir dimanfaatkan untuk membawa puluhan
wisatawan menikmati pesona Sungai Kahayan. Dengan hanya Rp 75 ribu
, bisa membuktikan jika Sungai Kahayan sangat indah bila dinikmati dari
atas kapal.
Rute pertama kapal adalah persimpangan
antara Sungai Kahayan dan Sungai Rungan. Perjalanan sekitar 1 jam lebih.
Jembatan Kahayan segera menyambut kapal . Kiri kanan sungai disuguhi
pemandangan hutan tropis khas Kalimantan. Barisan rapat pepohonan hijau
tersebut membentuk lanskap yang sedap dipandang. Sesekali berselisih
dengan klotok kecil milik warga di sekitar Sungai Kahayan. Umumnya
klotok-klotok tersebut digunakan warga untuk mencari ikan air tawar yang
banyak di jumpai di Kahayan. Diantaranya ikan baung, ikan lais, ikan
patin sungai, ikan tapah hingga jelawat yang terkenal lezat.
Situs sejarah Tajahan Tjilik Riwut-
Di persimpangan Sungai Kahayan dan Sungai Rungan, kapal berbalik arah.
Disanalah terdapat situs sejarah ini . Tajahan merupakan lokasi keramat
yang sangat disucikan oleh suku Dayak khususnya yang berkeyakinan
Kaharingan. Jika mempunyai keinginan yang terkabul, warga Dayak biasanya
menaruh kain kuning dan sesaji di tajahan. konon , tajahan ini
merupakan tajahan yang sering dikunjungi pahlawan nasional asal Kalteng,
Tjilik Riwut. Di sekitar tajahan tersebut terdapat enam buah rumah mini
yang isinya ditemui beberapa telur dan tulang untuk sesajen.
Dari atas dek kapal , makin leluasa
menyaksikan pemandangan di sepanjang sungai yang membelah Palangka Raya
ini. Kapal kembali merayap di bawah Jembatan Kahayan. Rute selanjutnya
adalah menyaksikan perkampungan di atas sungai. Warga setempat
menyebutnya rumah lanting. Rumah terapung yang hanya
ditopang beberapa kayu gelondongan. Tak hanya sebagai sebagai rumah
tinggal saja, warga juga memanfaatkan “halaman” nya sebagai lahan untuk
bertambak ikan air tawar. Kios dengan aneka jenis dagangan pun, tak
jarang saya temui disini.
Untuk menuju perkotaan, salah satu
transportasi favorit adalah klotok bermesin. Warga setempat sangat
bergantung pada sungai. Rumah, pekerjaan dan segala jenis kebutuhan lain
sangat bergantung pada Kahayan.
Tak terasa 3 jam perjalanan di atas
kapal. dengan mendapatkan Banyak pengalaman. Betapa alam dan manusia
berpadu manis di sepanjang Kahayan . Kapal kembali merapat di dermaga.
Kuliner khas Dayak ,RM Samba adalah
tempat favorit untuk menyantap menu khas Dayak di Kalteng. ,ikan jelawat
bakar. Menu pelengkap nya adalah sayur asam rotan muda, sambal tomat,
sayur serai yang diulek dengan ikan sungai dan sepiring nasi putih.
Wisata Belanja. Jalan Batam di sudut lain
Palangka Raya menyediakan begitu banyak toko oleh-oleh. Tak hanya
Mandau pedang khas Dayak, puluhan toko disini juga menjajakan kain khas
Dayak bermotif batang garing, perahu karet nyatu, gelang simpay, tikar
lampit, kaos hingga amplang yang berbahan utama ikan pipih.
Pasar souvenir andalan Palangka Raya ini juga terkenal di kalangan wisatawan asing yang bertandang ke Kalteng.
Di pasar ini banyak ditumukan turis manca
negara karena, Sebagian besar turis asing menjadikan Palangka Raya
sebagai pintu masuk utama menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang
berjarak sekitar 11 jam perjalanan darat.
Museum Balanga di Jalan Tjilik Riwut.
memaparkan sejarah dan budaya suku Dayak di Kalteng. Suasana
memasuki ruangan luas yang terdapat banyak sekat. Dimana-mana sama,
berkesan sepi dan agak sedikit angker. Melihat penyang. Sebuah kalung
milik warga Dayak jaman dulu yang diyakini sebagai penangkal dari bahaya
musuh. Kalung kuno tersebut dihiasi oleh jejeran gigi beruang seukuran
jari kelingking orang dewasa.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar